Minggu, 06 Februari 2011

Ruku' dan Wiridnya

1. Mengangkat Tangan Sewaktu Ruku’
Setelah selesai mambaca surat Al-Qur’an supaya diam sejenak. Setelah itu melakukan gerakan ruku’ den­gan mengangkat kedua tangan sebagaimana takbira­tul ihram sambil membaca takbir. Hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Samurah ibn Jun­dub ra.: 
               كَانَ يَسْكُتُ سَكْتَتَيْنِ اِذَا اسْتَفْتَحَ وَ اِذَا فَرِغَ مِنَ الْقِرَءَةِ كُلِّهَا
“Sewaktu Nabi saw. melaksanakan shalat, Nabi saw. mem­punyai dua kali saktah (diam sejenak). Yaitu sewaktu membaca do’a iftitah dan sewaktu usai membaca surat Al-Qur’an”. HR. Abu Daud dan Hakim. Hadis ini dinilai sah oleh imam Hakim dan disepakati oleh imam Dzahabi.
Imam Ibn Qayyim dalam Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa lama saktah  tersebut sekedar sempurnanya pernafasan.
Adapun syari’at mengangkat tangan sewaktu ruku’, hadis­nya diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar sebagaimana yang te­lah diuraikan pada bab Takbiratul Ihram.
2. Sifat Ruku’
Kesempurnaan sikap ruku’ sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi saw. tercermin dalam hal-hal berikut ini:
a.   Kedua telapak tangan diletakkan tepat pada lutut. Bukan pada bagian bawah atau bagian atasnya.
b.   Jari-jari tangan dibuka dan ditekankan sedemikian rupa sehingga terasa mantap.
c.   Posisi lengan dikesampingkan ke arah kiri dan kanan sehingga keadaan punggung menjadi rata betul. Sam­pai-sampai digambarkan apabila dituangkan air di atas punggung Nabi saw. ketika beliau sedang ruku’, maka air tersebut tidak tumpah.
d.   Sikap kepala tidak diarahkan ke atas atau ke bawah, melainkan antara keduanya  sehingga pandangan mata menuju ke tempat sujud.
Dalil-dalil yang menggambarkan sikap ruku’ sangat banyak. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Hadis Nabi saw.: 
                اِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ رَاحَتَيْكَ ثُمَّ فَرِّجْ بَيْنَ أَصَابِعِكَ ثُمَّ امْكُثْ حَتَّى يَأْخُذَ كُلُّ عُضْوٍ مَأْخَذَهُ
“Jika kalian ruku’ maka letakkan telapak tanganmu pada lutut, bukalah jari-jarimu kemudian tekankan dengan mantap dan tumakninah sehingga anggota badan kembali kepada persendiannya”. HR. Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban.
Hadis Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.: 
                  كَانَ يُجَافِى وَ يُنَحِّى مِرْفَقَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ
Sewaktu Nabi saw. ruku’ beliau membuka kedua lengan ke arah samping kiri dan kanan”. HR. Turmudzi. Hadits ini dinilai sah oleh imam Ibn Khuzaimah.
Hadis Nabi saw. lainnya:  
                كَانَ اِذَا رَكَعَ بَسَطَ ظَهْرَهُ وَ سَوَّاهُ
“Sewaktu Nabi saw. ruku’ beliau meratakan punggung­nya”. HR. Baihaqi dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah.
Hadis Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh Wabi­sah ibn Ma’bad ra.: 
                  حَتَّى لَوْ صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءَ لاَسْتَقَرَّتْ
“Sekiranya dituangkan air di atas punggung Nabi, maka air itu menetap, tidak tumpah”. HR. Ibn Majah dan Thabrani.
Hadis Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh Ais­yah ra.: 
وَ كَانَ لاَ يَصُبُّ رَأْسَهُ وَ لاَ يَقْنَعُ وَ لَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ
“Sewaktu Nabi saw. ruku’ beliau tidak menundukkan kepala dan juga tidak mengangkatnya ke arah atas, melain­kan antara keduanya”. HR. Muslim dan Abu Uwanah.
3. Wirid Wirid Ruku’
Dalam sikap ruku’ yang sempurna seperti di atas, Nabi saw. membaca wirid ruku’. Wirid-wirid ruku’ yang pernah diajarkan oleh Nabi saw. memang cukup banyak, kita diperkenankan memilih mana yang kita kehendaki. Di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Contoh Pertama : 
              سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمُ (ثَلاَثًا)                  
“Maha Suci Tuhanku dan Maha Agung (dibaca tiga kali)”.
Sebagaimana hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Khuzaifah ibn Yaman ra.:
اِنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ اِذَا رَكَعَ (سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمُ ثَلاَثًا) وَ اِذَا سَجَدَ قَالَ (سُبْحَـنَ رَبِّىَ الأَعْلَى ثَلاَثًا)
“Khuzaifah mendengar Nabi saw. sewaktu ruku’ membaca Subhana rabbiyal adzim (3x). Sewaktu sujud Nabi saw. membaca Subhana rabbiyal a’la (3x)”. HR. Ibn Abi Syaibah, Ahmad dan Ibn Majah dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah.
b. Contoh Kedua:                                                     سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمُ وَ بِحَمْدِهِ (ثَلاَثًا)
“Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dan Maha Terpuji (diucapkan tiga kali)”.
Sebagaimana hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Uqbah ibn Amir ra.:
فَكَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِذَا رَكَعَ قَالَ (سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمُ وَبِحَمْدِهِ) ثَلاَثًا وَ اِذَا سَجَدَ قَالَ (سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى وَ بِحَمْدِهِ) ثَلاَثًا
“Sewaktu Nabi saw. ruku’ beliau membaca Subhana rabbiyal adzim wa bihamdihi (3x). Dan sewaktu sujud beliau membaca Subaha rabbiyal a’la wa bihamdihi (3x)”. HR. Abu Daud, Daraqutni, Thabrani dan Baihaqi.
c. Contoh Ketiga:  
                                        سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَ الرُّوْحِ
“Tuhan yang Maha Suci lagi Maha Bersih. Penguasa para Malaikat dan ruh”.
Sebagaimana hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.:
اِنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ وَ سُجُوْدِهِ (سُبُّوْحٌ قٌدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَ الرُّوْحِ)
“Sewaktu Nabi saw. ruku’ dan sujud beliau membaca Subbuhun quddusun rabbul malaikati war ruh”. HR. Muslim dan Abu Uwanah.
d. Contoh Keempat:   
            سُبْحَانَكَ رَبِّى وَ بِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِى
“Maha Suci Engkau ya Allah. Tuhanku serta memujilah aku kepada-Nya. Ya Allah, ampunilah aku”. HR. Bukhari dan Muslim.
e. Contoh Kelima:
اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَ بِكَ آمَنْتُ وَ لَكَ أَسْلَمْتُ أَنْتَ رَبِّى خَشِعَ لَكَ سَمْعِى وَ بَصَرِى وَ مُخِّى وَ عَظْمِى وَ عَصَبِى وَ مَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Ya Allah Kepada-Mu saya ruku’, kepada-Mu saya beriman, kepada-Mu saya menyerahkan diri. Engkau Tuhanku, seluruh pendengaranku, penglihatanku, fikiranku, tulangku dan syarafku adalah tunduk kepada-Mu. Dan semua yang ada pada kakiku hanyalah milik Allah, Penguasa seluruh alam”.
Sebagaimana hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ali ibn Abi Thalib ra.:
اِنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِذَا قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ ... وَ اِذَا رَكَعَ قَالَ اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَ بِكَ آمَنْتُ وَ لَكَ أَسْلَمْتُ خَشِعَ لَكَ سَمْعِى وَ بَصَرِى وَ مُخِّى وَ عَظْمِى وَ عَصَبِى وَ مَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
 “Ketika Nabi saw. melaksanakan shalat ... Ketika ruku’ beliau membaca: Ya Allah, kepada-Mu aku ruku’. Kepadamu aku beriman dan kepada-Mu aku menyerahkan diri. Engkau adalah Tuhanku. Seluruh pendengaranku, penglihatanku, fiki­ranku, tulangku dan syarafku adalah tunduk kepada-Mu. Dan semua yang ada pada kedua kakiku hanyalah milik Allah. Penguasa seluruh alam”. HR. Muslim, Abu Uwanah, Thahawi dan Daraqutni.
f. Contoh Keenam
اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَ بِكَ آمَنْتُ وَ لَكَ أَسْلَمْتُ وَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ أَنْتَ رَبِّى خَشِعَ لَكَ سَمْعِى وَ بَصَرِى وَ دَمِى وَ عَظْمِى وَ عَصَبِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالِمِيْنَ
“Ya Allah kepada-Mu saya ruku’. Kepada-Mu saya beriman. Kepada-Mu saya berserah diri. Kepada-Mu saya bertawakkal. Engkau adalah Tuhanku. Seluruh pendengaranku, penglihatanku, darahku, tulangku, dan syarafku tunduk kepada-Mu. Dzat yang mengatur alam semesta”. HR. Nasai dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah.
g. Contoh Ketujuh:
      سُبْحَانَ ذِى الْمَلَكُوْتِ وَ الْكِبْرِيَاءِ وَ الْعَظَمَةِ
“Tuhan Maha Suci. Pemilik Kemahaperkasaan Kemahake­kuasaan Kemahabesaran dan Kemahaagungan”.
Sebagaimana hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Auf ibn Malik ra.:
قُمْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لَيْلَةً ...  ثُمَّ رَكَعَ بِقَدْرِ قِيَامِهِ يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ ( سُبْحَانَ ذِى الْجَبَرُوْتِ وَ الْمَلَكُوْتِ وَ الْكِبْرِيَاءِ وَ الْعَظَمَةِ)
“Pada suatu malam saya shalat berjama’ah bersama Nabi saw. ... Ketika beliau ruku’ lamanya seperti lama berdirinya. Waktu itu Nabi membaca Subhana dzil jabaruti ...”. HR. Abu Daud dan Nasai.
4. Tumakninah Dalam Ruku’
Sewaktu ruku’ harus dilakukan secara tumakninah. Bahkan dikhabarkan bahwa lamanya ruku’ Nabi saw., sujud, i’ti­dal dan duduk antara dua sujudnya hampir sama.
Hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Anas ibn Malik ra.:
أَتِمُّوْا الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ فَوَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ أَنِّى لأَرَاكُمْ مِنْ بَعْدِ ظَهْرِى اِذَا مَا رَكَعْتُمْ وَ اِذَا مَا سَجَدْتُمْ
“Sempurnakan ruku’mu dan sujudmu. Demi yang jiwaku di tangan-Nya, saya melihat sekiranya kalian belum menyem­purnakan ruku’ dan sujud”. HR. Bukhari dan Muslim.
Sebagaimana hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Barra’ ibn Azib ra.:
كَانَ رُكُوْعُ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ سُجُوْدُهُ وَ اِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ وَ بَيْنَ السَّجَدَيْنِ قَرِيْبًا مِنَ السَّوَاءِ
“Lama ruku’ Nabi saw., sujudnya, i’tidalnya dan duduk antara dua sujudnya hampir sama”. HR. Bukhari dan Muslim.
Dalam masalah ini diperselisihkan oleh para ulama. Apa­kah disyari’atkan menggabungkan beberapa wirid dalam ruku’?. Menurut imam Nawawi: Boleh menggabungkan wirid-wirid tersebut. Katanya pula: Yang afdal adalah mengga­bungkan wirid-wirid apabila waktu memungkinkan. Pendapat ini disanggah oleh imam Abu Thayyib Shadiq Khan. Katanya: Kadang-kadang Nabi saw. membaca wirid yang satu kadang-kadang membaca wirid lainnya. Saya ti­dak pernah menemukan dalil diperbolehkannya menggabung­kan antara satu wirid dengan wirid lainnya, melainkan dipilih salah satunya. Maka sikap ittiba’ kepada sunnah Nabi saw. adalah lebih utama.
Syaikh Nasiruddin al-Albani menyatakan: Pendapat inilah insya Allah yang tepat. Hanya saja munculnya berita yang sah bahwa lama ruku’ Nabi saw. yang sama dengan lama berdirinya jelas mengundang problem baru. Jika seseorang ingin melakukan seperti ini, maka tidak mung­kin baginya kecuali dengan cara menggabungkan antara satu wirid dengan wirid lainnya, atau memilih salah satunya kemudian dibacanya berulang ulang. Seperti ini mudah-mudahan lebih dekat dengan tuntunan. Wallahu a’lam.
5. Pencuri Shalat
Bagi orang yang tidak menyempurnakan sikap ruku’nya maka dia diibaratkan sebagai “pencuri shalat”. Untuk itu haruslah berhati-hati dalam menyempurnakan sikap ruku’ dalam shalat. Sebagaimana hadis Nabi saw.:
 أَسْوَءُ النَّاسِ سَرِقَةً اَلَّذِى يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ. قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ وَ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَ لاَ سُجُوْدَهُ
“Seburuk-buruk manusia dalam perbuatan pencurian adalah orang yang mencuri shalatnya. Para sahabat bertanya: Wahai Nabi, bagaimana gambaran orang yang mencuri sha­latnya? Nabi saw. menjawab: Orang yang tidak menyempur­nakan ruku’ dan sujudnya”. HR. Ibn Abi Syaibah, Thabrani dan Hakim. Hadis ini dinilai sah oleh imam Hakim dan disepakati oleh imam Dzahabi.
6. Larangan Membaca Al Qur’an
Sewaktu ruku’ tidak diperbolehkan oleh Nabi saw. untuk membaca surat Al-Qur’an. Sebagaimana hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas
اِنِّى نُهِيْتُ اَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَبَّ عَزَّ وَ جَلَّ وَ اَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِيْهِ الدُّعَاءَ فَقَمِنٌ اَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Sesungguhnya saya telah dilarang Tuhan untuk membaca surat Al-Qur’an sewaktu ruku’ dan sujud. Sewaktu kalian ruku’ agungkan nama Tuhanmu yang Maha Perkasa, dan sewaktu sujud berupayalah memperbanyak do’a. Karena sewajarnya do’amu dikabulkan oleh Tuhan”. HR. Muslim dan Abu Uwanah.
Larangan ini sifatnya umum, berlaku ketika seseorang melak­sanakan shalat fardhu (wajib) atau shalat sunnah. Adapun munculnya tambahan riwayat yang menyatakan: 
                    فَأَمَّا صَلاَةُ التَّطَوُّعِ فَلاَ جُنَاحَ
“Dalam shalat sunnah kalian dibolehkan membaca surat Al-Qur’an (sewaktu ruku’ dan sujud)”. Hadis ini jelas mungkar dan tidak dapat dijadikan lan­dasan hukum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar